Kembali kepada waktu yang kumandang adzan subuhnya belum terdengar
pada waktu ketika kamu menguap menjadi sejuknya pagi pertama setelah berakhirnya hari-hari tenang

Dengan menggantungkan rindu pada cantelan di dahimu
dimulailah hari-hari
yang dingin ubinnya membekukan keinginan
juga mengurung kegelisahan
pada tempat yang terkadang tepat

Menekuk diri
Sambil menghitung pagi yang terulang

Awalan ini kukira akhir
Awalan gelisah setelah akhiran tenang

Advertisements

Mari Mengenang yang Hilang Tanpa Berlinang Air Mata, Kita Tidak Mau Kenangan Itu Basah Atau Dihanyutkan Jauh Ke Dalam Hulu Perasaan — Bintang Bumoe

🙂 Hei, apa kabar? Ini malam yang menyenangkan, bukan? Wajah langit dicerahkan rembulan. Seperti wajahmu yang tersenyum; menyabit rinduku. Sudah lama aku tidak membiarkan kata-kata menuliskan kerinduanmu padaku. Kau tahu, aku pemalu. Tidak berani berkata-kata pada kerling matamu. Tidak berani bersuara pada heningmu. Tapi aku juga rindu. Apa kabarmu? Lagi-lagi aku bertanya pada semesta. Yang […]

via Mari Mengenang yang Hilang Tanpa Berlinang Air Mata, Kita Tidak Mau Kenangan Itu Basah Atau Dihanyutkan Jauh Ke Dalam Hulu Perasaan — Bintang Bumoe

Apakah yang kemarin itu adalah hujanmu?

Apakah yang kemarin itu adalah hujanmu?  ;

yang menimpamu, yang membasahi kamu di setengah perjalananmu

Apakah yang kemarin itu adalah hujanmu? ;

yang membasahimu, yang menahanmu menuju sana

Aku tahu basahmu
Aku tahu lelahmu
Aku tahu air matamu

Aku tak tahu titik keberangkatanmu
Aku tak tahu tujuanmu
Aku tak tahu hatimu

Apakah yang kemarin itu adalah hujanmu? ;

yang membuatmu datang ke dalam pelukanku untuk mengeringkan tubuh

Apakah yang kemarin itu adalah hujanmu? ;

yang harus kamu lewati untuk bertemu si pelukis pelangi

Apakah kemarin yang kemarin itu adalah hujanmu? ;

(yang harus kamu lewati untuk bertemu si pelukis pelangi setelah mengeringkan tubuh dalam pelukanku)

.

.

.

.

.

Aku bisa mengeringkan basahmu dan memberimu hangat, tapi kutahu ia bisa melukis pelangi.

 

 

Dalam kebingungan, Jakarta-Yogya 29/7/16.

Sampai Kapan?

‌Pada akhirnya aku seperti tidak lagi takut pada apa pun.

‌Aku tak pernah takut menghadapi sakit yang disebabkan olehnya. Luka sejak 2 tahun lalu itu tetap saja di sini. Ya, di sini. Inilah buktinya aku tidak takut pada apa pun. Luka ini sudah berubah menjadi udara yang tiap hari kuhirup.

‌Saat pertama kali bertemu, aku pun tidak takut menatap matanya yang jelas-jelas di dalamnya terdapat makan bertuliskan namaku. 

‌Dan aku semakin tidak takut menceritakan kisahku padanya karena kutahu di dalam dadanya itu terdapat taman indah yang menenangkan.

‌Setiap hari aku pulang ke rumah melewati kuburan di dalam matanya dan taman di dalam dadanya. Walau terkadang aku tersesat di labirin dalam mulutnya, aku tetap tidak takut karena aku tahu, seburuk-buruknya perjalanan menuju rumah, aku pasti akan melewati taman yang bunganya dihinggapi banyak kupu-kupu.

Saat kutersesat dalam labirinnya, aku tidak ketakutan, aku hanya kebingungan harus ke kanan, kiri atau lurus. Aku hanya harus terus berjalan karena labirinnya tak pernah menawarkan jalan mundur.

‌Kuburan di dalam matanya malah membuatku tenang. Setiap kali melewatinya, aku hanya mendengar nyanyian pilu masa lalu dan nyanyian keraguan masa depan. Aku tetap tidak takut; itu makamku sendiri.

‌Ruteku hari ini bisa jadi melewati labirin lebih dahulu baru melewati kuburan, lalu taman indah. Esok mungkin tak sama dengan hari ini, tapi tetap kunikmati. 

‌Aku tidak takut pada labirin yang membingungkan ini. Aku tidak takut pada kuburan berlangit merah kehitaman ini. Aku tidak takut tersesat, tidak takut suara anjing yang melonglong.

Entah telah berapa ratus hari aku melewati jalan ini hingga membuatku ingin terus di sini; kengerian yang menghidupkanku.

Kengerian?

‌Kengerian?

Kengerian?

Nyanyian Kaum Tanah Merah

Pada tiap helai jalan yang tak bernama
Untuknya disisakan jejak kaki penuh gelisah

Tanah merah ini masih menyimpan
Panasnya angin tajam yang ia sisakan untukmu

Tanah di belakang ini akan terus longsor
Dan hutan di belakang gunung masih terlalu hitam untuk diketahui

Waktu Geje Indonesia Barat

Ada saja lagu yang mirip cerita kami.

Apa yang gw rasain bikin gw ngerasa hidup bukan di bumi.

Setiap mendapat info tempat nongkrong baru yang asyique, gw selalu pengen banget pergi sama dia.

Lagi makan ketoprak aja inget dia, karena dia toge.

Gw sepengen itu bisa tampil bareng nyanyi sama dia.

Paling nyiksa adalah ketika gw ke mall buat main dan hepi2, tiba2 gw ngerasa deg2an kayak pas mau ketemu dia. Kan gw jadi bingung dan takut. Gw jadi mikir jangan2 gw sakit jantung. (?)

Tapi dia emang bikin jantungan. Pertama kali ketemu dia aja jantung gw langsung ‘mak deg’.

Gw ngiri banget sm dia karena rambut dan alis dia tebal, hitam dan lembut, sementara gw nggak. Dan dia bisa masak. Oh, Tuhan, kenapa?

Gw suka kesel kalo dia keseringan minta maaf; kesannya kayak gw lagi lebaranan sama dia.

Tiap keinget dia, otak gw otomatis langsung nyanyi “你会不会忽然地出现在街角的咖啡店?”(好久不见) . Serius.

Nama dia sebenernya nggak pasaran amet sih, hanya agak sering muncul di nama toko emas, furnitur dan bahan bangunan. Eh agak sering nemu nama dia sih, ya sering keinget.

Gw suka banget kalo lagi berdua kaminya diem aja.

Kalo tentang dia gw udah kayak kufur nikmat gitu, gw rasa nggak pernah cukup, tapi di sisi lain ia adalah salah satu yang paling gw syukuri di hidup gw.

Dua tahun ini gw sering banget nulis. Yhaaa…

Agak mirip sama Kagome & Inuyasha sih, tp yg ketancep di pohonnya ya si Kagome. Dan… nggak tau akhirnya gimana.

Dia mirip banget kayak Inuyasha sih.

Bikin gw belajar lagi apa itu indah.

Kayak buka mata pake silet, tp akhirnya bisa ngeliat banyak warna.

*NP: 我的歌声里* Yeaaaaaay.

(?) Gitu deh.