Category Archives: Duniaku

Nyanyian Kaum Tanah Merah

Pada tiap helai jalan yang tak bernama
Untuknya disisakan jejak kaki penuh gelisah

Tanah merah ini masih menyimpan
Panasnya angin tajam yang ia sisakan untukmu

Tanah di belakang ini akan terus longsor
Dan hutan di belakang gunung masih terlalu hitam untuk diketahui

Advertisements

Waktu Geje Indonesia Barat

Ada saja lagu yang mirip cerita kami.

Apa yang gw rasain bikin gw ngerasa hidup bukan di bumi.

Setiap mendapat info tempat nongkrong baru yang asyique, gw selalu pengen banget pergi sama dia.

Lagi makan ketoprak aja inget dia, karena dia toge.

Gw sepengen itu bisa tampil bareng nyanyi sama dia.

Paling nyiksa adalah ketika gw ke mall buat main dan hepi2, tiba2 gw ngerasa deg2an kayak pas mau ketemu dia. Kan gw jadi bingung dan takut. Gw jadi mikir jangan2 gw sakit jantung. (?)

Tapi dia emang bikin jantungan. Pertama kali ketemu dia aja jantung gw langsung ‘mak deg’.

Gw ngiri banget sm dia karena rambut dan alis dia tebal, hitam dan lembut, sementara gw nggak. Dan dia bisa masak. Oh, Tuhan, kenapa?

Gw suka kesel kalo dia keseringan minta maaf; kesannya kayak gw lagi lebaranan sama dia.

Tiap keinget dia, otak gw otomatis langsung nyanyi “你会不会忽然地出现在街角的咖啡店?”(好久不见) . Serius.

Nama dia sebenernya nggak pasaran amet sih, hanya agak sering muncul di nama toko emas, furnitur dan bahan bangunan. Eh agak sering nemu nama dia sih, ya sering keinget.

Gw suka banget kalo lagi berdua kaminya diem aja.

Kalo tentang dia gw udah kayak kufur nikmat gitu, gw rasa nggak pernah cukup, tapi di sisi lain ia adalah salah satu yang paling gw syukuri di hidup gw.

Dua tahun ini gw sering banget nulis. Yhaaa…

Agak mirip sama Kagome & Inuyasha sih, tp yg ketancep di pohonnya ya si Kagome. Dan… nggak tau akhirnya gimana.

Dia mirip banget kayak Inuyasha sih.

Bikin gw belajar lagi apa itu indah.

Kayak buka mata pake silet, tp akhirnya bisa ngeliat banyak warna.

*NP: 我的歌声里* Yeaaaaaay.

(?) Gitu deh.

 

 

Usaha di Awal Mei

“Hey, kau. Aku sedang ingin memberimu satu pertanyaan.”

“Tentang apa? Tanyakan saja.”

“…Bagaimana caramu menyayangi mereka yang menyayangimu?”

“Orang yang menyayangiku… “

“Jawab sekarang juga. Aku ingin dengar.”

“Menyayangi orang yang menyayangiku…
Aku akan tunjukkan pada mereka bahwa aku mampu menyayangi diriku sendiri.
Itu. Seperti itulah caraku.”

Sejak kemarin sore aku duduk di depan cermin, hingga tak sadar bahwa bulan April sudah pergi.

RWS. 1 Mei 2015, 2:51.

Pematah Kunci

Bagaimana bisa aku
Menyambung kunci itu
Yang kau patahkan kemarin
Karena kecewa pada dunia

Kau berpulang ke rumahmu
Membawa satu kunci tanpa cadangannya
Yang kau patahkan
Karena kecewa pada dunia di belakangmu

Kau bilang kau kecewa pada dunia di belakangmu itu
Bukan
Kutahu pada dirimulah kau kecewa
Menyianyiakan dunia yang kini telah padam lampunya

Kau masih berdiri di depan pintu
Menangisi dirimu yang sudah pulang
Menggenggam kunci yang patah
Karena tanganmu yang dirasuki amarah

Wanita keras hati, kau tetap akan pulang
Karena rumah adalah tujuanmu
Tubuhmu lemah, hatimu pedih
Lalu kepada rumahlah kau berpulang

Kakimu masih tegak di atas keset
Matamu bersedih, tanganmu menyesal
Mulutmu memaki dunia, tangan dan kunci
Bagaimana aku bisa menyambung kunci yang kau patahkan

Kutahu kau tetap akan sampai ke dalam
Karena rumah adalah tempatmu berpulang
Dengan punggungmu yang kuat
Kau buka paksa pintu itu

Dan di depan rumah yang berada di samping rumahmu
Aku duduk lemas memandangi kau yang sudah masuk
Ke dalam dunia tempatmu berpulang
Dan semuanya hanyalah tanah yang sama

Dan ternyata rumahmu adalah duniamu
Jaga ia baik-baik, di sana kau hidup
Walau di atas tanah adalah hal yang lain
Yang kau pikir itu mudah

Suatu saat aku akan berkunjung
Membawa senyum dan seikat bunga warna-warni
Setelah aku bisa masuk ke rumahku
Yang kuncinya patah karena tanganku


RWS. Ciracas, 30 April 2015, 16:10.

Tangis Ajaib

IMG_20150408_233234

Google image + me. #drawing

Hujan deras
Ia menangis
Melepas sesuatu
Dari yang menyayatnya
Sejak tahun lalu
Dua puluh tahun lalu
Sejak ia mengenal tanah
Sejak ia mulai memaki

Bukan pelangi setelah hujan
Ada yang hadir
Kembali hidup
Setelah ia menangis

Terulang
Hijau
Menggelap
Hitam
Tak kuat
Maka menangis
Dan kembali hijau

Bumi butuh hujan
Kadang aku menangis
Pagi ini hujan

RWS, Cibubur, 9 April 2015, 7:38.

Kepada Kalian

Kepada kalian
Wahai
Pocong
Kuntilanak
Tuyul
Genderuwo
Dan dari kalian yang berbentuk abstrak

Kepada kalian
Yang bertahun-tahun mengikuti

Kepada kalian
Yang duduk memandangi tulisanku ini

Kukatakan pada kalian
Aku lelah

Tak bisakah kalian pergi saja
Cari orang lain yang pintunya sengaja dibuka
Bukan aku yang tau di mana kunci pintuku

Pergilah
Cari tubuh lain yang bisa menggendong kalian
Bukan aku

Kepada kau, Pocong
Tak bisakah berhenti melompat
Kupingku lelah, Ibuku ketakutan

Wahai Kuntilanak
Jangan sampai kau menggantikan kakakku
Kuping dan mataku lelah

Kepada kalian
Yang entah kapan akan pergi
Tak bosankah kalian menunggu pintuku dibuka
Kukatakan pintu ini akan terus tertutup
Akan kubuat tuli kupingku
Kubuat buta mataku
Meskipun kalian menari telanjang di depanku

Kepada kalian
Carilah pintu lain
Jangan aku