Category Archives: (Mungkin) Tentang Kamu

Kembali kepada waktu yang kumandang adzan subuhnya belum terdengar
pada waktu ketika kamu menguap menjadi sejuknya pagi pertama setelah berakhirnya hari-hari tenang

Dengan menggantungkan rindu pada cantelan di dahimu
dimulailah hari-hari
yang dingin ubinnya membekukan keinginan
juga mengurung kegelisahan
pada tempat yang terkadang tepat

Menekuk diri
Sambil menghitung pagi yang terulang

Awalan ini kukira akhir
Awalan gelisah setelah akhiran tenang

Advertisements

Apakah yang kemarin itu adalah hujanmu?

Apakah yang kemarin itu adalah hujanmu?  ;

yang menimpamu, yang membasahi kamu di setengah perjalananmu

Apakah yang kemarin itu adalah hujanmu? ;

yang membasahimu, yang menahanmu menuju sana

Aku tahu basahmu
Aku tahu lelahmu
Aku tahu air matamu

Aku tak tahu titik keberangkatanmu
Aku tak tahu tujuanmu
Aku tak tahu hatimu

Apakah yang kemarin itu adalah hujanmu? ;

yang membuatmu datang ke dalam pelukanku untuk mengeringkan tubuh

Apakah yang kemarin itu adalah hujanmu? ;

yang harus kamu lewati untuk bertemu si pelukis pelangi

Apakah kemarin yang kemarin itu adalah hujanmu? ;

(yang harus kamu lewati untuk bertemu si pelukis pelangi setelah mengeringkan tubuh dalam pelukanku)

.

.

.

.

.

Aku bisa mengeringkan basahmu dan memberimu hangat, tapi kutahu ia bisa melukis pelangi.

 

 

Dalam kebingungan, Jakarta-Yogya 29/7/16.

Sampai Kapan?

‌Pada akhirnya aku seperti tidak lagi takut pada apa pun.

‌Aku tak pernah takut menghadapi sakit yang disebabkan olehnya. Luka sejak 2 tahun lalu itu tetap saja di sini. Ya, di sini. Inilah buktinya aku tidak takut pada apa pun. Luka ini sudah berubah menjadi udara yang tiap hari kuhirup.

‌Saat pertama kali bertemu, aku pun tidak takut menatap matanya yang jelas-jelas di dalamnya terdapat makan bertuliskan namaku. 

‌Dan aku semakin tidak takut menceritakan kisahku padanya karena kutahu di dalam dadanya itu terdapat taman indah yang menenangkan.

‌Setiap hari aku pulang ke rumah melewati kuburan di dalam matanya dan taman di dalam dadanya. Walau terkadang aku tersesat di labirin dalam mulutnya, aku tetap tidak takut karena aku tahu, seburuk-buruknya perjalanan menuju rumah, aku pasti akan melewati taman yang bunganya dihinggapi banyak kupu-kupu.

Saat kutersesat dalam labirinnya, aku tidak ketakutan, aku hanya kebingungan harus ke kanan, kiri atau lurus. Aku hanya harus terus berjalan karena labirinnya tak pernah menawarkan jalan mundur.

‌Kuburan di dalam matanya malah membuatku tenang. Setiap kali melewatinya, aku hanya mendengar nyanyian pilu masa lalu dan nyanyian keraguan masa depan. Aku tetap tidak takut; itu makamku sendiri.

‌Ruteku hari ini bisa jadi melewati labirin lebih dahulu baru melewati kuburan, lalu taman indah. Esok mungkin tak sama dengan hari ini, tapi tetap kunikmati. 

‌Aku tidak takut pada labirin yang membingungkan ini. Aku tidak takut pada kuburan berlangit merah kehitaman ini. Aku tidak takut tersesat, tidak takut suara anjing yang melonglong.

Entah telah berapa ratus hari aku melewati jalan ini hingga membuatku ingin terus di sini; kengerian yang menghidupkanku.

Kengerian?

‌Kengerian?

Kengerian?

Waktu Geje Indonesia Barat

Ada saja lagu yang mirip cerita kami.

Apa yang gw rasain bikin gw ngerasa hidup bukan di bumi.

Setiap mendapat info tempat nongkrong baru yang asyique, gw selalu pengen banget pergi sama dia.

Lagi makan ketoprak aja inget dia, karena dia toge.

Gw sepengen itu bisa tampil bareng nyanyi sama dia.

Paling nyiksa adalah ketika gw ke mall buat main dan hepi2, tiba2 gw ngerasa deg2an kayak pas mau ketemu dia. Kan gw jadi bingung dan takut. Gw jadi mikir jangan2 gw sakit jantung. (?)

Tapi dia emang bikin jantungan. Pertama kali ketemu dia aja jantung gw langsung ‘mak deg’.

Gw ngiri banget sm dia karena rambut dan alis dia tebal, hitam dan lembut, sementara gw nggak. Dan dia bisa masak. Oh, Tuhan, kenapa?

Gw suka kesel kalo dia keseringan minta maaf; kesannya kayak gw lagi lebaranan sama dia.

Tiap keinget dia, otak gw otomatis langsung nyanyi “你会不会忽然地出现在街角的咖啡店?”(好久不见) . Serius.

Nama dia sebenernya nggak pasaran amet sih, hanya agak sering muncul di nama toko emas, furnitur dan bahan bangunan. Eh agak sering nemu nama dia sih, ya sering keinget.

Gw suka banget kalo lagi berdua kaminya diem aja.

Kalo tentang dia gw udah kayak kufur nikmat gitu, gw rasa nggak pernah cukup, tapi di sisi lain ia adalah salah satu yang paling gw syukuri di hidup gw.

Dua tahun ini gw sering banget nulis. Yhaaa…

Agak mirip sama Kagome & Inuyasha sih, tp yg ketancep di pohonnya ya si Kagome. Dan… nggak tau akhirnya gimana.

Dia mirip banget kayak Inuyasha sih.

Bikin gw belajar lagi apa itu indah.

Kayak buka mata pake silet, tp akhirnya bisa ngeliat banyak warna.

*NP: 我的歌声里* Yeaaaaaay.

(?) Gitu deh.

 

 

Pernikahan Arwah

Ingin sekali kubakar kim cua untukNya
Agar dibukakan jalan kepadamu
Dari sinar bulan dan burung malam
Yang sudi kuinjak kepalanya
Agar ku bisa turun dihiasi sinar bulan dan kicauan burung malam

Ingin sekali kubakar kim cua untukNya
Agar aku berjalan dengan kaki menginjak tanah
Dari tanah untuk sejenismu
Yang di bawahnya terkubur guci bertuliskan namaku
Agar ku bisa telan habis abunya

Kusenandungkan pada angin
Keabadian bukanlah suatu takdir
Ia hanya dianggap abadi
Kematian tidak abadi
Kehidupan juga tidak abadi

Kim cua dari apiku membuat\Nya kenyang
Maka Ia bukakan gerbang malam untukku
Langkah pertama membunuh mataku
Pada malam yang bulannya terang di atas kabut
Kau bakar gin cua untukku

Di atas jalan yang bukan jalanmu ini
Kupandangi engkau yang membakar gin cua
Sementara aku di sini membakar kim cua untukNya
Kau mungkin sedang merayakan
Dan aku terus membakar kim cua karena kamu

Pada malam yang sama, kita berdiri
Dengan wajah merah karna panas api
Mengingat satu hal sama
Memanjatkan dua doa yang mungkin berbeda
Entah doa siapa yang dikabulkan

Menari dengan Gila

Telah ia tumpuk bara di kepalamu
Pada hujan yang semalam turun
Ia terbangkan sisa bara
Yang sembunyi di balik tulang dada

Menari dengan gila pada tiap hujan
Ingin api di tangannya padam
Memohon lukanya jadi dingin
Hingga hatinya tak lagi menjerit

Ia terus menari dengan gila
Pada tiap hujan di tanahnya
Sisa apinya tidak padam
Lakunanya tetap menjerit

Dengan bara di kepalamu
Kau boleh menari dengan gila
Pada hujan-hujan berikutnya
Yang mungkin kau doakan tak akan turun

Ia terus menari dengan gila
Memohon hujan datang lagi
Berdoa agar bara di kepalamu semakin panas
Kau malah tidur mendekap bara

(Kau pikir aku sudah gila)
(Nampaknya aku memang sudah gila)

RWS. 22/9/15, 17:17

Posted from WordPress for Android