Category Archives: Tak Berkategori

Mari Mengenang yang Hilang Tanpa Berlinang Air Mata, Kita Tidak Mau Kenangan Itu Basah Atau Dihanyutkan Jauh Ke Dalam Hulu Perasaan — Bintang Bumoe

🙂 Hei, apa kabar? Ini malam yang menyenangkan, bukan? Wajah langit dicerahkan rembulan. Seperti wajahmu yang tersenyum; menyabit rinduku. Sudah lama aku tidak membiarkan kata-kata menuliskan kerinduanmu padaku. Kau tahu, aku pemalu. Tidak berani berkata-kata pada kerling matamu. Tidak berani bersuara pada heningmu. Tapi aku juga rindu. Apa kabarmu? Lagi-lagi aku bertanya pada semesta. Yang […]

via Mari Mengenang yang Hilang Tanpa Berlinang Air Mata, Kita Tidak Mau Kenangan Itu Basah Atau Dihanyutkan Jauh Ke Dalam Hulu Perasaan — Bintang Bumoe

Advertisements

Waktu Geje Indonesia Barat

Ada saja lagu yang mirip cerita kami.

Apa yang gw rasain bikin gw ngerasa hidup bukan di bumi.

Setiap mendapat info tempat nongkrong baru yang asyique, gw selalu pengen banget pergi sama dia.

Lagi makan ketoprak aja inget dia, karena dia toge.

Gw sepengen itu bisa tampil bareng nyanyi sama dia.

Paling nyiksa adalah ketika gw ke mall buat main dan hepi2, tiba2 gw ngerasa deg2an kayak pas mau ketemu dia. Kan gw jadi bingung dan takut. Gw jadi mikir jangan2 gw sakit jantung. (?)

Tapi dia emang bikin jantungan. Pertama kali ketemu dia aja jantung gw langsung ‘mak deg’.

Gw ngiri banget sm dia karena rambut dan alis dia tebal, hitam dan lembut, sementara gw nggak. Dan dia bisa masak. Oh, Tuhan, kenapa?

Gw suka kesel kalo dia keseringan minta maaf; kesannya kayak gw lagi lebaranan sama dia.

Tiap keinget dia, otak gw otomatis langsung nyanyi “你会不会忽然地出现在街角的咖啡店?”(好久不见) . Serius.

Nama dia sebenernya nggak pasaran amet sih, hanya agak sering muncul di nama toko emas, furnitur dan bahan bangunan. Eh agak sering nemu nama dia sih, ya sering keinget.

Gw suka banget kalo lagi berdua kaminya diem aja.

Kalo tentang dia gw udah kayak kufur nikmat gitu, gw rasa nggak pernah cukup, tapi di sisi lain ia adalah salah satu yang paling gw syukuri di hidup gw.

Dua tahun ini gw sering banget nulis. Yhaaa…

Agak mirip sama Kagome & Inuyasha sih, tp yg ketancep di pohonnya ya si Kagome. Dan… nggak tau akhirnya gimana.

Dia mirip banget kayak Inuyasha sih.

Bikin gw belajar lagi apa itu indah.

Kayak buka mata pake silet, tp akhirnya bisa ngeliat banyak warna.

*NP: 我的歌声里* Yeaaaaaay.

(?) Gitu deh.

 

 

“Eh..”

Seribu arti dari “Eh..”
Sampai lupa “Eh..” mana yang kumaksud
Dan “Eh..” mana yang kau mengerti

Dari “Eh..” tangan bisa berjabat
“Eh..” yang menyapa
Dan ada “Eh..” di ujung perpisahan
“Eh..” bisa juga isyarat
Bahwa kita mungkin telah “Eh..”

Aku “Eh..”
Kamu “Eh..”
Atau “Eh..” mungkin
“Eh..” aku
“Eh..” kamu
Lalu kita bisa “Eh..”
Sampai “Eh..”

“Eh..” mana yang kau mau?

“Eh..?”


11 Juli 2015

View original post

Soliloquy Dari Tanah Utara (part IV)

IV

Aku bertanya
Apa yang kau masak untuk sahur nanti?

Ia menjawab
Sepotong kerelaan, dan seiris hati
Untuk dahagamu ada secangkir rindu

Ah..

Di depanku
Ada sepasang mata yang berkaca-kaca
Saat secangkir rindu yg ia suguhkan
Kunikmati diam-diam
Dalam keterbatasan sapa dan tanya
Dalam hening yang ia mulakan
Dalam bisu yang aku teruskan

Dan kekasih..
Saat duka dan luka itu menyapamu
Masihkah kau tetap akan berkata;
Bila kau tak bisa berhenti mencintaiku,
Itu masalahmu?

Ataukah justru mengukuhkan keberadaanku?


28 Mei 2015

View original post

TEATER FEUI: “PEREMPUAN YANG DUDUK DI BAWAH KURSI”

“Ibu khawatir apabila suamimu ternyata tidak sebaik yang Ibu maupun kamu kira, apabila suamimu dapat menjelma binatang pada malam hari seperti para lelaki yang rela membayar demi menikmati tubuh Ibu barang satu atau dua jam saja.”
— Ibu

Saksikanlah; tanggal 20 Mei 2015, pukul 18.00 WIB di Auditorium Dekanat FEB UI.

HTM: Rp 10.000,-

Narahubung: 0877-8137-5067 (Jesi)
@teaterfeui

View on Path