Dan Ia Datang Lagi

Pada waktunya ia datang

Ia
Mengurung kenangan
Membisikkan tawa dan tangisan kemarin

Menegaskan jarak
Juga mengembalikan kamu
Tapi tak pernah menghadirkanmu

Dan hujan datang lagi
Ia tak lagi jadi penenang perih dan penghapus pilu

——————————————-

RWS. Depok, 10/11/2015, 13:59.

Advertisements

Pernikahan Arwah

Ingin sekali kubakar kim cua untukNya
Agar dibukakan jalan kepadamu
Dari sinar bulan dan burung malam
Yang sudi kuinjak kepalanya
Agar ku bisa turun dihiasi sinar bulan dan kicauan burung malam

Ingin sekali kubakar kim cua untukNya
Agar aku berjalan dengan kaki menginjak tanah
Dari tanah untuk sejenismu
Yang di bawahnya terkubur guci bertuliskan namaku
Agar ku bisa telan habis abunya

Kusenandungkan pada angin
Keabadian bukanlah suatu takdir
Ia hanya dianggap abadi
Kematian tidak abadi
Kehidupan juga tidak abadi

Kim cua dari apiku membuat\Nya kenyang
Maka Ia bukakan gerbang malam untukku
Langkah pertama membunuh mataku
Pada malam yang bulannya terang di atas kabut
Kau bakar gin cua untukku

Di atas jalan yang bukan jalanmu ini
Kupandangi engkau yang membakar gin cua
Sementara aku di sini membakar kim cua untukNya
Kau mungkin sedang merayakan
Dan aku terus membakar kim cua karena kamu

Pada malam yang sama, kita berdiri
Dengan wajah merah karna panas api
Mengingat satu hal sama
Memanjatkan dua doa yang mungkin berbeda
Entah doa siapa yang dikabulkan

Menari dengan Gila

Telah ia tumpuk bara di kepalamu
Pada hujan yang semalam turun
Ia terbangkan sisa bara
Yang sembunyi di balik tulang dada

Menari dengan gila pada tiap hujan
Ingin api di tangannya padam
Memohon lukanya jadi dingin
Hingga hatinya tak lagi menjerit

Ia terus menari dengan gila
Pada tiap hujan di tanahnya
Sisa apinya tidak padam
Lakunanya tetap menjerit

Dengan bara di kepalamu
Kau boleh menari dengan gila
Pada hujan-hujan berikutnya
Yang mungkin kau doakan tak akan turun

Ia terus menari dengan gila
Memohon hujan datang lagi
Berdoa agar bara di kepalamu semakin panas
Kau malah tidur mendekap bara

(Kau pikir aku sudah gila)
(Nampaknya aku memang sudah gila)

RWS. 22/9/15, 17:17

Posted from WordPress for Android

Lakuna di Sebelah

Aku mengetuk pintu yang sama
Setiap hari setelah beberapa pria masuk ke sana
Selalu dikatakan padaku
Ruang ini sudah ada yang mengisi

Aku mengetuk pintu yang sama
Setiap hari setelah aku tahu bahwa selalu ada ruang kosong
Selalu dikatakan padaku
Ruang ini sudah ada yang mengisi

Aku mengetuk pintu yang sama
Setiap hari menanyakan ruang kosong
Akhirnya dikatakan padaku
Wanita tak bisa masuk

Aku mengetuk pintu yang sama
Pada hari akhir menitipkan selembar kertas kepada si penjaga
Akhirnya kukatakan padamu
Lakunaku di sebelah ruanganmu

RWS. 17-7-15. 22:35. Bumi Cabean Asri, Sidoarjo.

“Eh..”

Seribu arti dari “Eh..”
Sampai lupa “Eh..” mana yang kumaksud
Dan “Eh..” mana yang kau mengerti

Dari “Eh..” tangan bisa berjabat
“Eh..” yang menyapa
Dan ada “Eh..” di ujung perpisahan
“Eh..” bisa juga isyarat
Bahwa kita mungkin telah “Eh..”

Aku “Eh..”
Kamu “Eh..”
Atau “Eh..” mungkin
“Eh..” aku
“Eh..” kamu
Lalu kita bisa “Eh..”
Sampai “Eh..”

“Eh..” mana yang kau mau?

“Eh..?”


11 Juli 2015

View original post

Soliloquy Dari Tanah Utara (part IV)

IV

Aku bertanya
Apa yang kau masak untuk sahur nanti?

Ia menjawab
Sepotong kerelaan, dan seiris hati
Untuk dahagamu ada secangkir rindu

Ah..

Di depanku
Ada sepasang mata yang berkaca-kaca
Saat secangkir rindu yg ia suguhkan
Kunikmati diam-diam
Dalam keterbatasan sapa dan tanya
Dalam hening yang ia mulakan
Dalam bisu yang aku teruskan

Dan kekasih..
Saat duka dan luka itu menyapamu
Masihkah kau tetap akan berkata;
Bila kau tak bisa berhenti mencintaiku,
Itu masalahmu?

Ataukah justru mengukuhkan keberadaanku?


28 Mei 2015

View original post